7 Rekomendasi Tempat Wisata untuk Long Weekend Hari Raya Waisak yang Tak Boleh Dilewatkan

Redaksi Daerah - Rabu, 22 Mei 2024 16:42 WIB
7 Rekomendasi Destinasi Wisata Long Weekend Hari Raya Waisak yang Harus Dikunjungi (borobudurpark)

JAKARTA - Tak terasa sebentar lagi kita akan mendapatkan hari libur panjang karena ada perayaan Hari Waisak pada Kamis, 23 Mei 2024. Waisak atau Waisaka adalah hari raya agama Buddha. Di berbagai negara, Hari Waisak dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Seperti Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, serta Vesak di Sri Lanka.

Nama Waisak sendir berasal dari bahasa Pali “Wesakha,” yang juga berkaitan dengan “Waishakha” dalam bahasa Sanskerta. Di beberapa wilayah, hari ini juga disebut “Hari Buddha.”

Di tahun ini, umat Buddha akan merayakan peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 Buddhis Era (BE) yang jatuh pada 23 Mei 2024, dengan tema tentang kesadaran atas keberagaman.

“Tema peringatan Tri Suci Waisak 2568 BE memberi pesan kepada kita bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan dan dipertentangkan,” tutur Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi.

“Perbedaan harus dipahami dan disadari sebagai keberagaman yang saling menguatkan satu sama lain dalam menapaki hidup luhur untuk mencapai tujuan kehidupan yang harmonis dan bahagia,” sambungnya.

Hari Raya Waisak tahun ini bertepatan dengan long weekend, yang mana biasanya dimanfaatkan oleh kebanyakan orang untuk mengambil cuti dan pergi liburan bersama.

Jika kalian salah satu orang yang memanfaatkan libur Hari Raya Waisak, sudahkah kalian memiliki destinasi tujuan? Jika belum, berikut beberapa rekomendasi tempat wisata yang dapat kalian kunjungi. Yuk, simak artikel berikut!

Rekomendsi Tempat Wisata Libur Long Weekend Hari Raya Waisak

1. Candi Borobudur

Candi Borobudur (borobudurpark)

Salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) ini tercatat sebagai “Candi Buddha Terbesar di Dunia.” Setiap tahun Candi Borobudur menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak Nasional, pun pada perayaan Waisak tahun ini.

Perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur selalu berlangsung dengan meriah dan khidmat. Tahun ini, rangkaian perayaan telah dimulai sejak awal Mei 2024. Puncak perayaan ditandai dengan pelepasan ribuan lampion yang menerangi langit di sekitar candi. Hal ini menjadi daya tarik wisata di Candi Borobudur.

Candi legendaris ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sekitar tahun 750-an masehi, di bawah pemerintahan dinasti Syailendra. Proses pembangunannya memakan waktu sekitar 75 tahun dan diselesaikan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.

Candi Borobudur terletak di atas bukit hijau yang asri, dengan pemandangan bukit-bukit hijau di sekitarnya. Struktur bangunannya terdiri dari jutaan blok batu yang disusun menjadi tiga bagian, yang melambangkan tingkatan alam semesta dalam filsafat Buddha. Monumen kolosal ini juga dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 patung Buddha.

2. Candi Mendut

Candi Mendut (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Candi ini dinamakan Mendut karena terletak di Desa Mendut. Candi Mendut merupakan candi bercorak Buddha Mahayana yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra.

Prasasti dari Desa Karang Tengah yang berangka tahun 824 Masehi menyebutkan bahwa Raja Indra membangun bangunan suci bernama çrimad venuvana, yang berarti bangunan suci di hutan bambu. Menurut J.G. de Casparis, seorang ahli arkeologi dari Belanda, nama ini dikaitkan dengan pendirian Candi Mendut.

Terletak tidak jauh dari Candi Borobudur, tepatnya di Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang sekitar 4,5 km dari Candi Borobudur. Candi Mendut juga menjadi salah satu candi yang menjadi pusat rangkaian perayaan Hari Raya Waisak Nasional.

Puncak perayaan Waisak di Candi Mendut ditandai dengan kirab yang dilakukan umat Buddha dengan berjalan kaki menuju Candi Borobudur. Selama kirab, para biksu akan memercikkan air suci dan bunga mawar putih kepada umat dan warga di sepanjang perjalanan.

3. Maha Vihara Mojopahit

Maha Vihara Mojopahit (pariwisata.mojokertokab.go.id)

Dilansir dari pariwisata.mojokertokab.go.id, Maha Vihara Majapahit adalah sebuah wihara yang terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Di sini terdapat Patung Buddha Tidur yang kini menjadi salah satu ikon wisata Mojokerto.

Patung ini adalah patung Buddha terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga di Asia Tenggara, dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter. Patung Buddha Tidur berwarna emas ini menggambarkan wafatnya Siddharta Gautama dan dibangun menghadap ke arah selatan, yang merupakan kiblat bagi umat Buddha.

Patung ini semakin sakral karena terdapat relief perjalanan Buddha dalam mengajarkan dharma, dan mengenai hukum sebab-akibat (karma).

4. Klenteng Kwan Sing Bio

Klenteng Kwan Sing Bio (disbudporapar.tubankab.go.id)

Terletak di Jalan Martadinata No. 1, Karangsari, Tuban, Jawa Timur, Klenteng Kwan Sing Bio adalah destinasi wajib dikunjungi saat libur Hari Raya Waisak. Klenteng ini termasuk salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, dengan luas area mencapai 4-5 hektare.

Dilansir dari indonesia.go.id, Klenteng Kwan Sing Bio berbeda dari klenteng lainnya karena merupakan satu-satunya klenteng yang menghadap ke laut. Terletak di pinggir jalan raya Pantura, klenteng ini menghadap langsung ke Laut Jawa.

Dominasi warna merah, kuning, dan hijau pada bangunan klenteng, lengkap dengan hiasan khas Tionghoa seperti naga, lilin, dan lampion, menambah pesona yang memikat para pengunjung saat mereka datang ke tempat ini.

Bangunan utama klenteng terbagi menjadi tiga ruangan. Ruang pertama di bagian depan digunakan untuk membakar hio. Ruang kedua di bagian tengah sering dipakai untuk sembahyang dan menempatkan buah-buahan persembahan. Ruang ketiga di bagian belakang adalah tempat arca atau patung Dewa Kwan Kong dan arca lainnya yang dianggap keramat.

Di halaman belakang klenteng, pengunjung dapat menemukan bangunan megah seperti istana, dilengkapi dengan gerbang, kolam, jembatan kelok sembilan, gazebo, dan lain-lain. Klenteng Kwan Sing Bio, menurut sejarah didirikan sekitar tahun 1773. Berbeda dengan klenteng pada umumnya yang menggunakan simbol naga, di dalam klenteng Kwan Sing Bio terdapat simbol seekor kepiting besar.

Selain itu, klenteng ini juga terdapat patung Dewa Kwan Sing Tee Koen dengan tinggi sekitar 30 meter, yang tercatat sebagai patung panglima perang tertinggi di Asia Tenggara oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

5. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva

Vihara Ksitigarbha Bodhisattva (disparbudpora.bengkaliskab.go.id)

Vihara ini dikenal dengan julukan vihara seribu wajah atau seribu patung. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, selain menjadi tempat ibadah bagi umat Buddha, juga menjadi destinasi wisata religi di Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepulauan Riau.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, pembangunan vihara ini memakan waktu 14 tahun dan memiliki 500 patung Lohan dengan berbagai wajah, serta lebih dari 40 patung dewa-dewa dalam kepercayaan Buddha. Vihara ini merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara setelah China.

Julukan “vihara 1.000 wajah” diberikan oleh masyarakat karena banyaknya patung di lokasi ini. Pembuat patung-patung tersebut kabarnya langsung seniman dari China.

Untuk menuju ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, dari kota Tanjungpinang, harus melalui jalan Nusantara yang mengarah ke Barat menuju perbatasan kota. Sekitar satu kilometer sebelum memasuki perbatasan kabupaten Bintan, terdapat jalan masuk ke kanan yaitu jalan Asia Afrika (km 14).

6. Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi (wonderfulimages.kemenparekraf.go.id)

Dilansir dari jambiprov.go.id, Percandian Muaro Jambi menyimpan lebih dari 80 reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno dari abad IX-XV Masehi. Meskipun belum sepopuler candi-candi di Pulau Jawa, situs purbakala ini diyakini sebagai salah satu pusat pengembangan agama Buddha pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Candi ini merupakan perpaduan antara Hindu dan Buddha. Berdasarkan catatan sejarah, Candi Muaro Jambi berfungsi sebagai tempat peribadatan dan pembelajaran agama Buddha. Hal ini diperkuat oleh corak Buddhisme pada bangunan candi dan penemuan tulisan aksara Jawa Kuno di situs tersebut.

Situs purbakala ini membentang sepanjang 7,5 kilometer di tepian Sungai Batanghari, dari barat ke timur. Lokasinya dapat dicapai melalui jalur darat dan sungai, berjarak sekitar 30 km dari Kota Jambi. Dari sekitar 80 reruntuhan candi yang disebut menapo oleh masyarakat setempat, baru sebagian kecil yang sudah dipugar. Berdasarkan sisa-sisa reruntuhan yang ada, sebuah bangunan menggunakan batu merah.

Candi-candi yang sudah dibangun dan bisa dikunjungi wisatawan termasuk Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, dan kolam Talaga Rajo. Selain itu, terdapat kanal-kanal tua yang mengelilingi kompleks percandian ini. Lokasinya tersebar di Desa Muaro Jambi, Kemingking Dalam, dan Danau Lamo.

Fakta menarik lainnya, dalam buku Travelnatic Magazine Vol 2, bahwa kawasan Candi Muaro Jambi memiliki luas 155.269,58 hektare, atau sepuluh kali lipat lebih luas daripada kawasan situs Borobudur.

7. Pulau Kemaro

Pulau Kemaro (giwang.sumselprov.go.id)

Dilansir dari keratonpalembang.com, tengah sungai Musi terdapat sebuah pulau yang dikenal sebagai Kemaro. Nama Kemaro berarti pulau yang tidak pernah tergenang air saat air pasang besar, sehingga pulau ini terlihat terapung-apung di atas sungai Musi dari kejauhan.

Pulau ini memiliki sebuah legenda tentang kisah cinta antara “Siti Fatimah Putri Raja Palembang yang dilamar oleh anak raja China bernama Tan Bun Ann.” Syarat yang diajukan Siti Fatimah kepada Tan Bun Ann adalah menyediakan 9 guci berisi emas, yang disetujui oleh keluarga Tan Bun Ann.

Untuk menghindari bajak laut saat perjalanan membawa emas dari negeri China, emas di dalam guci-guci tersebut ditutupi dengan asinan dan sayur. Ketika kapal tersebut tiba di Palembang, Tan Bun Ann memeriksa guci-guci yang ditutupi asinan dan sayur.

Dengan rasa marah dan kecewa, Tan Bun Ann membuang seluruh guci tersebut ke sungai Musi. Namun, pada guci yang terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga terlihat kepingan emas yang ada di dalamnya.

Rasa penyesalan membuat Tan Bun Ann mengambil keputusan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Melihat itu, Siti Fatimah ikut menerjunkan diri ke sungai sambil berkata “jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini maka di situlah kuburan saya.”

Destinasi ini menarik untuk merayakan Waisak, yaitu di Pulau Kemaro. Berjarak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera, di Pulau Kemaro terdapat klenteng Hok Tjing Rio dan Pagoda sembilan lantai di tengah-tengah pulau.

Itu dia beberapa rekomendasi wisata untuk mengisi long weekend Hari Raya Waisak, selamat berlibur!

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Distika Safara Setianda pada 22 May 2024

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 22 Mei 2024

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS