Bahaya Tersembunyi Starlink Elon Musk: Risiko Tabrakan dan Sampah Luar Angkasa

Redaksi Daerah - Rabu, 22 Mei 2024 10:25 WIB
Mengungkap Sisi Lain Starlink Elon Musk: Risiko Tabrakan dan Sampah Antariksa

JAKARTA - Keberadaan Starlink saat ini tampaknya telah merevolusi penyediaan layanan internet dengan jaringan satelitnya.

Satelit Starlink milik Elon Musk ini diketahui mengorbit sekitar 342 mil (550 kilometer) di atas Bumi. Bahkan satelit tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang sebagai untaian cahaya terang yang bergerak melintasi langit malam.

Meskipun menawarkan banyak manfaat, proyek ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan ilmuwan dan astronom. Sejak diluncurkan, Starlink telah menempatkan 5.874 satelit di orbit, dengan 5.800 di antaranya beroperasi penuh.

Jumlah sebanyak itu menjadikan jaringan ini menjadi salah satu penyedia internet terbesar di dunia. Pada 7 November 2022, terdapat14.450 satelit yang pernah diluncurkan sepanjang sejarah.

Dilansir Space.com, Senin 20 Mei 2024, hingga saat ini terdapat 6.800 satelit yang masih aktif menurut Badan Antariksa Eropa (ESA). Banyak orang di seluruh dunia telah melihat dan melaporkan penampakan satelit ini, dan panduan web tersedia untuk membantu melacak satelit Starlink.

Ganggu Pengamatan dan Transportasi Luar Angkasa

Meskipun proyek starlink bertujuan menyediakan akses internet secara global, namun keberadaan ribuan satelitnya di atmosfer Bumi menghadirkan sejumlah kekhawatiran serius.

Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah dampaknya terhadap pengamatan astronomi. Satelit Starlink yang terang sering terlihat sebagai deretan cahaya di langit malam, yang dikenal sebagai "kereta" satelit.

Fenomena ini terbukti mengganggu observasi astronomi, termasuk pengamatan dari teleskop sensitif seperti Vera Rubin Observatory. Foto-foto dari Observatorium Lowell di Arizona memperlihatkan garis-garis terang dari satelit ini, yang menyulitkan analisis data astronomi dan menyebabkan para peneliti khawatir tentang kualitas pengamatan yang terganggu.

Di samping itu, komunitas astronomi juga menghadapi tantangan dari segi radio astronomi. Antena Starlink dapat menyebabkan interferensi radio yang mengganggu pengamatan gelombang radio dari alam semesta.

Hal tersebut sangat merugikan radio astronom yang mempelajari fenomena kosmik yang memancarkan gelombang radio dari jarak jauh, sehingga memerlukan lingkungan yang bebas dari interferensi.Masalah lain yang tak kalah penting adalah potensi tabrakan di orbit yang semakin padat.

Dengan keberadaan ribuan satelit yang diluncurkan oleh SpaceX, risiko tabrakan di ruang angkasa meningkat, sehingga dapat menciptakan lebih banyak sampah luar angkasa. Sampah ini tidak hanya mengancam satelit lain tetapi juga stasiun luar angkasa dan misi luar angkasa di masa depan.

Ketika satelit-satelit ini keluar dari orbit dan terbakar saat kembali ke atmosfer Bumi, terdapat potensi kerugian besar berkaitan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Proses jatuhnya satelit di atmosfer bumi melibatkan proses pembakaran.

Pembakaran ini dapat menambah polusi atmosfer dan berpotensi memiliki efek negatif lainnya, termasuk perubahan kimiawi di lapisan atmosfer yang dapat berdampak jangka panjang pada lingkungan global.

Secara keseluruhan, meskipun proyek Starlink menawarkan manfaat besar dalam hal akses internet global, berbagai tantangan dan dampak negatifnya harus dikelola dengan hati-hati.

Langkah mitigasi yang melibatkan komunitas ilmiah dan industri penerbangan luar angkasa sangat penting untuk mengurangi dampak negatif ini dan memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak merugikan aspek penting lain dari kehidupan di Bumi dan eksplorasi ilmiah.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Muhammad Imam Hatami pada 20 May 2024

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 22 Mei 2024

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS