Begini Rencana Menteri Erick Tohir Merger BUMN Jasa Internet

Joise Bukara - Selasa, 20 September 2021 20:37 WIB

JAKARTA - Upaya konsolidasi unit bisnis di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus digulirkan Menteri Erick Thohir. Merger dan akuisisi menjadi pilihan utama Menteri BUMN ini dalam melakukan efisiensi layanan serentak memperkuat kualitas dan kapasitas BUMN sebagai penggerak dan penopang pembangunan bangsa.

Setelah berhasil melebur tujuh rumah sakit BUMN menjadi satu holding rumah sakit PT Pertamina Bina Medika (RS Pertamedika) dan segera menggabungkan empat unit bisnis angkutan laut BUMN Pelindo I-IV, Erick kini membidik akan mengkonsolidasikan unit bisnis telekomunikasi.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR akhir bulan Agustus lalu, Erick melemparkan wacana untuk melakukan merger unit bisnis telekomunikasi BUMN. Hal itu dilakukan mengingat banyaknya anak usaha BUMN yang ikut bermain di lini bisnis telekomunikasi di luar klasterisasinya.Selain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan Indihome-nya, ada sejumlah BUMN yang mengembangkan sayap bisnisnya di industri telekomunikasi. Misalnya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR).

Jasa Marga mengembangkan bisnis internet melalui anak usaha PT Jasa Marga Related Business (JMRB). Kemudian PGN melalui anak usaha PT Telemedia Dinamika Sarana dengan brand untuk produk internetnya bernama Gasnet. Dan PLN melalui PT Indonesia Comnets Plus (Icon+).

Erick memandang bahwa peleburan beberapa unit bisnis jasa penyedia internet tersebut penting guna melakukan sinkronisasi dan efisiensi serta menghindari persaingan di antara sesama perusahaan BUMN.

Tidak hanya itu, mantan Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf ini juga ingin agar tiap-tiap klater BUMN fokus pada inti bisnisnya sehingga bisa mengungkit keuntungan besar.

"Memang ada catatan bagaimana kondisi beberapa BUMN yang mengembangkan usahanya di luar klasterisasi. Jujur memang ada satu dua BUMN yang sedang kita dalami, salah satunya memang kalau dalam pembicaraan internal kami karena ada rapim (rapat pimpinan) mingguan, mengenai tadi Icon+ dengan Telkom. Nah ini kita lakukan," ungkap Erick dalam RDP dengan DPR.

Perkuat Ekosistem Telekomunikasi

Pengamat telekomunikasi Ian Yosep sepakat dengan rencana besar Erick untuk merombak struktur bisnis pada inti BUMN.

Menurut dia, strategi merger atau akuisisi unit bisnis yang dicanangkan Erick perlu dipertimbangkan secara serius oleh masing-masing BUMN yang sejauh ini sama-sama bermain di aspek bisnis yang serupa.

Merger bukanlah strategi untuk menghilangkan persaingan usaha semata. Lebih dari itu untuk menyatukan kekuatan agar menjadi lebih besar. Tidak saja kapasitas layanan internet, tetapi juga aset perusahaan yang makin besar.

"Merger merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya saing dan efesiensi, karena BUMN telekomunikasi maka proyek pertumbuhannya akan sangat tinggi karena pastinya masing masing memilki keunggulan yang menjadi pembeda dan jika merger akan menjadi sangat kuat sekali terutama aset," ungkapnya ketika diwawancarai TrenAsia.com, Minggu, 12 September 2021.

Ian menambahkan bahwa jika rencana merger industri telekomunikasi BUMN berhasil maka serentak mendongkrak nilai perusahaan sehingga memberikan keuntungan kepada BUMN itu sendiri. Hal itu karena ada kesatuan manajemen tata kelola layanan dan keuangan yang terintegrasi dan terarah.

Dia menyebut bahwa jika terjadi merger maka akan ada dua BUMN yang memiliki kemampuan infrastruktur jaringan telekomunikasi terbesar sehingga memperkuat ekosistem jaringan telekomunikasi di tanah air.

Telkom saat ini telah memiliki serat optik sepanjang 169.833 kilometer dan menjangkau 496 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Sementara PLN melalui Icon+ pada 2019 telah memiliki 152.069 kilometer. Jika keduanya digabungkan maka serat optik yang dimiliki BUMN bisa mencapai 320.000 kilometer.

Indihome milik Telkom saat ini memiliki pangsa pasar 80% di seluruh Indonesia. Namun, ini masih belum menjangkau seluruh potensi pasar yang yang ada di Indonesia.

Kebutuhan fixed broadband (internet tetap) ini dinilai masih sangat besar mengingat jumlah rumah tangga di Indonesia mencapai 65 juta dan baru 15% yang terpakai.

"Penggabungan Telkom dengan Icon+ menjadi satu BUMN, jika hal ini terjadi tentu saja menjadikan nilai perusahaan yang sangat tinggi, karena keduanya memiliki jaringan backbone fiber optic yang membentuk ring, tentu saja hal ini akan membuat jaringan lebih andal dan redundan," kata Ian.

Dia menerangkan bahwa tidak hanya Indihome dan Icon+, PGN dengan brand untuk produk internetnya bernama Gasnet dan Jasa Marga dengan jaringan fiber optiknya yang memanfaatkan aset jalan tol, juga berpotensi dileburkan menjadi satu.

Dengan penggabungan empat unit bisnis ini maka terjadi suatu lompatan kekuatan yang luar biasa dalam mendukung infrastruktur telekomunikasi tanah air.

"Tentu saja keuntungannya sangat tinggi bagi BUMN karena terjadi pengabungan keunggulan yang ada, serta tata kelola menjadi satu kesatuan yang lebih efesien dan nilai perusahaan menjadi lebih tinggi," kata Ian.

Namun, dia mengungkapkan bahwa dalam penggabungan nantinya, masing-masing BUMN barangkali tidak melakukan pembangian klaster operasi.

Yang terjadi adalah peleburan manajemen, perencanaan dan tata kelola untuk secara bersama menjalankan bisnis telekomunikasi sesuai dengan transformasi digital saat ini.

Menjaga Utilitas Perusahaan

Ian mengatakan bahwa penggabungan industri telekomunikasi BUMN bagi banyak orang mungkin akan berpotensi terjadi monopoli dan persaingan yang tidak sehat dengan penyedia layanan swasta.

Namun, dia menegaskan bahwa justru dengan peleburan tersebut maka iklim usaha telekomunikasi makin bertumbuh positif karena terjadi persaingan yang sehat di antara BUMN dengan pihak swasta.

Bersamaan dengan itu, tuntutan akan kualitas layanan yang memadai akan menjadi prioritas utama BUMN karena jika tidak pelanggan akan berpaling ke partnernya.

"Karena sebagai BUMN telekomunikasi yang juga harus menjaga persaingan yang sehat dan juga tetap memerlukan pihak lain, maka dampak yang terjadi akan positif yaitu tingkat layanan ke partner ataupun pelanggan yang lebih baik," paparnya.

Dia menekankan bahwa agar tidak terjadi persaingan atau monopoli bisnis, maka BUMN harus meningkatkan utilitasnya agar tetap menjadi yang terdepan dalam bisnis telekomunikasi.

"Solusi yang harus dilakukan adalah meningkat utilisasi oleh partner dan pelanggan, dengan model bisnis yang lebih menarik sehingga utilisasi aset tetap terjaga, dan membuat pihak lain sebagai partner bisnis telekomunikasi," ucapnya.

Digabungkan ke Telkom

Sementara itu, Direktur Information and Communication technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengusulkan agar Telkom menjadi induk merger industri telekomunikasi BUMN.

Itu sama halnya dengan Pelindo II sebagai induk merger BUMN Pelabuhan dan RS Pertamina sebagai induk Holding RS BUMN.

"Jadi semua BUMN yang memiliki bisnis terkait infrastuktur dan layanan internet, dipisahkan bisnisnya dan diserahkan pengelolaan ke misal PT Telkom," ujarnya dalam wawancara dengan TrenAsia.com, Minggu kemarin.Heru sangat mendukung mergerisasi BUMN telekomunikasi karena dengan demikian bisa menciptakan efisiensi dan membuat setiap BUMN fokus pada core bisnisnya.

Karena itu, ia mendorong Erick agar bisa mewujudkan rencana tersebut dalam waktu yang tidak lama mengingat tingkat kebutuhan masyarakat akan layanan infrastruktur telelkomunikasi sedang tinggi.

"Rencana merger ini tentu baik bagi BUMN. Agar tidak sesama BUMN berkompetisi. Selain itu, agar masing-masing BUMN fokus pada core business masing masing," katanya.

Dia menyebut bahwa risiko monopoli bisnis jaringan telekomunikasi bisa dihindari apalagi dalam pasar yang sudah demikian terbuka, bisnis tersebut didorong untuk dikembangkan dalam iklim kompetisi.

"Telekomunikasi dikembangkan dalam iklim kompetisi. Jadi tidak masalah. Dan kebanyakan porsi besarnya kan infrastruktur," ungkap Heru.

Belum Ada Pembicaraan

Di tengah isu merger Icon+ dan Indihome, PT PLN mengklaim bahwa pihaknya belum melakukan pembicaraan apapun dengan Telkom mengenai wacana tersebut.

Artinya, belum ada diskusi lebih lanjut antara Menteri BUMN dengan pihak terkait, termasuk dengan Telkom dan PLN.

"Sampai dengan saat ini belum melakukan pembahaasan dengan Telkom maupun pihak-pihak yang terkait, sehingga saat ini kami belum memberikan informasi dan penjelasan lebih lanjut," tulis PLN di keterbukaan informasi, 9 September 2021 menanggapi pemberitaan di media mengenai isu mergerisasi kedua unit bisnis.

Sementara itu, PT Telkom menyambut baik rencana penggabungan bisnis jasa layanan internet milik BUMN. Mergerisasi bisa menimbulkan efisiensi bisnis yang lebih besar di bisnis fixed broadband dengan percepatan pengembangan jaringan yang lebih baik.

"Kalau dilihat secara lebih luas adanya kemungkinan penggabungan dari investasi di fixed broadband ini akan mempercepat jaringan broadband di Indonesia artinya capital tersebut bisa dikonsolidasi untuk manfaat yang lebih luas," ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Indonesia Heri Supriadi dalam Public Expose Live 2021, 6 September 2021.

Namun dia mengatakan bahwa pihaknya juga masih belum ada perbincangan dengan Kementerian BUMN dan pihak PLN.

Kendati demikian, dia berharap proses konsolidasi lini bisnis BUMN telekomunikasi bisa terjadi agar memperkuat ekosistem jaringan telekomunikasi nasional.

"Dengan adanya rencana ini kami menganggap ini rencana positif dalam rangka mempercepat akselerasi broadband bagi seluruh masyarakat Indonesia," katanya.*

 

Editor: Joise Bukara
Bagikan

RELATED NEWS