Inilah Daftar Bisnis yang Pecah Kongsi

Redaksi Daerah - Rabu, 26 Juni 2024 15:14 WIB
Tak Selalu Mulus, Inilah Deretan Bisnis Ini Pecah Kongsi undefined

JAKARTA - Tak dapat dipungkiri menjalankan suatu bisnis tak selalu mudah bagi para pengusaha. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku bisnis, termasuk untuk menjaga kekonsistenan bisnis yang dikelola baik sendiri atau dengan partner bisnis.

Isi kepala yang berbeda, terkadang terjadi membuat adanya perbedaan pendapat dalam menjalankan bisnis. Bahkan, tak jarang hal itu mengakibatkan bisnis terpaksa pecah kongsi. Dalam bisnis, pecah kongsi adalah situasi ketika pemilik bisnis memutuskan berpisah dan menjalankan bagian usahanya sendiri-sendiri.

Di Indonesia, ada banyak contoh bisnis yang pernah pecah kongsi karena berbagai alasan. Berikut daftar bisnis yang pecah kongsi di Indonesia.

Daftar Bisnis Indonesia yang Pecah Kongsi

1. Larutan Penyegar Cap Badak dan Cap Kaki Tiga

Larutan Penyegar Cap Badak dan Cap Kaki Tiga adalah dua brand minuman yang sudah terkenal bagi banyak masyarakat Indonesia. Namun nyatanya, kedua brand ini memiliki cerita pecah kongsi pemiliknya.

Awal mula kehadiran merek minuman ini berawal dari Wen Ken Drug (WKD), pengusaha asal Singapura yang membuat brand Cap Kaki Tiga pada 1937 dan memasarkan produk ke Indonesia. Caranya adalah menjalin kerja sama dengan perusahaan lokal. WKD bekerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa (SBS) pada 1978.

Namun, setelah puluhan tahun menjadi partner, ternyata WKD dan SBS resmi pecah kongsi pada 2008. Menurut pihak WKD, mereka dikhianati secara terstruktur untuk merusak pasar Cap Kaki Tiga.

Ada beberapa praktik curang yang diduga dilakukan SBS, seperti tidak mendaftarkan etiket dagang, tidak membayar royalti tepat waktu, hingga menghilangkan logo Kaki Tiga pada kemasan. Kedua pihak juga sempat berseteru tentang perebutan kekayaan intelektual hingga saling gugat di pengadilan.

2. Kebab Turki Baba Rafi

Nilamsari Sahadewa dan Hendy Setiono adalah pendiri Kebab Turki Baba Rafi pertama kali pada 2003. Keduanya memulai bisnis ini dengan berjualan gerobakan di Surabaya. Seiring waktu, bisnis mereka berkembang pesat. Mereka membuka skema waralaba sejak 2005 dan sudah memiliki lebih dari 300 gerai pada 2007.

Namun, bendera usaha PT Babarafi Indonesia terpaksa harus ditutup pada 2017 karena Nilamsari dan Hendy memutuskan cerai. Berdasarkan putusan Pengadilan Agama, bisnis mereka tetap dimiliki bersama dengan kesepakatan tertentu.

Saat ini, Nilamsari menjalankan Baba Rafi di bawah PT Sari Kreasi Boga (SKB) untuk regional Barat, mulai dari Aceh hingga Jogja. Sedangkan Hendy Setiono mengelola Baba Rafi di bawah bendera PT Baba Rafi Internasional untuk regional Timur, mulai dari Solo hingga Papua.

3. Ayam Goreng Suharti

Kesuksesan salah satu merek makan ayam goreng yang tersebar di seluruh Indonesia lantas tak membuat merek ini bisa mempertahankannya. Namun, bisnis Ayam Goreng Suharti diketahui pecah kongsi sejak puluhan tahun lalu. Itulah sebabnya saat ini ada dua merek Ayam Goreng Suharti dengan logo yang berbeda.

Namun, ternyata Suharti dikhianati oleh suaminya sendiri. Sachlan yang namanya tercatat sebagai pemilik justru membawa kabur semua bisnis yang sudah dibangun bersama Suharti sejak awal termasuk semua cabang yang sudah dibuka. Kabarnya, hal ini diduga karena ada orang ketiga.

Meski begitu, Suharti kembali membuka kedai ayam gorengnya pada 1991, dengan nama yang sama, tapi dengan logo yang tak mungkin ditiru orang lain. Suharti menggunakan fotonya sendiri sebagai logo Ayam Goreng Ny. Suharti. Hingga kini, kita masih bisa menjumpai dua merek Ayam Goreng Suharti di sejumlah kota di Indonesia.

4. Maicih

Makanan kekinian kripik pedas Maicih juga dikethui menjadi salh satu merek yang pecah kongsi. Maicih merupakan bisnis keluarga yang didirikan oleh tiga bersaudara, yaitu Dimas Ginanjar Merdeka, Arie Kurniadi, dan Reza Nurhilman.

Maicih sempat booming dan penjualannya meningkat pesat di seluruh Indonesia. Namun, seiring waktu ternyata mereka memiliki perbedaan visi dan misi. Pada akhirnya, mereka memutuskan pecah kongsi. Dimas Ginanjar melanjutkan bisnis Maicih di bawah bendera CV Maicih. Sedangkan kedua adiknya, Arie dan Reza menjalankan Maicih di bawah PT Maicih.

Menariknya, ada perbedaan logo antara keduanya. Maicih yang dikelola Dimas memiliki logo seorang ibu menghadap ke depan, sedangkan Maicih milik Arie dan Reza logonya menghadap ke samping.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Debrinata Rizky pada 23 Jun 2024

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 26 Jun 2024

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS